Prolog : Namaku adalah
Suara pohon memotong kesunyian. Naruto hampir tidak bisa sembunyi ketika kunai musuh menusuk ke dalam batang pohon.
“Kenapa kau tidak menyerah?” Teriak sang Musuh “Permainan ini semakin membosankan.”
Dengan napas berat Naruto mengacak acak tasnya dan menemukan kunai dan dua bom asap didalamnya. Tanpa ragu ia mengambil salah satu bom itu dan melemparkannya sebagai serangan ke arah ninja musuh.
Bom meledak dan pandangan musuh tertutup asap tebal. Naruto melompat keluar dari balik pohon, memegang kunai dengan erat di tangannya. Suara kunai beradu sesaat bom tersebut dilemparkan.
“Uh ... “
Tanpa sadar Naruto berlutut di hadapan musuh yang mengarahkan kunai padanya.
“Menyerahlah!” teriak sang ninja
Naruto mengangkat kedua tangannya dan menggumamkan sesuatu.
“Bisakah aku mengatakan suatu hal?”
“Aku tidak akan mendengarkan!” dia mendorong Naruto hingga menabrak batang pohon.
“Matilah kau,” geramnya.
“Menyerahlah.” kata Naruto.
Bwush ...
Seketika tubuh Naruto yang di tusuk lawan tersebut menghilang. Naruto yang asli berdiri tepat dibelakang lawannya.
“Menyerahlah.” Naruto memukul ninja itu hingga menabrak batang pohon didepannya dan terjatuh.
“Walaupun kau mengalahkanku, pembunuh lainnya akan menyerang desa.” Ucapnya tertawa.
Naruto terdiam melihat musuh ke bawah..
“Selama kami dikutuk untuk hidup di dunia Ninja, tidak akan ada kedamaian.” Lanjutnya.
Naruto membuka suara. “Lalu ... aku akan mematahkan kutukan itu! Jika ada yang namanya perdamaian, aku akan mencarinya! Aku tidak akan pernah menyerah!”
Pandangan mereka bertemu sementara daun jatuh menari diatas angin.
“Si-siapa kau ...?” tanya ninja itu melirik Naruto.
Naruto mengulurkan tangannya.
“Namaku adalah ... “

Posting Komentar
0 Komentar